Anak Mami, AHY Dibully, Ibu Ani Pasang Badan
Loading...
Loading...
Anak Mami, AHY Dibully, Ibu Ani Pasang Badan
AHY mungkin memiliki potensi untuk jadi pemimpin hebat, tapi tidak saat ini. Saat ini AHY masih perlu banyak belajar agar di masa depan bisa menjadi pemimpin hebat. AHY ibarat kepompong yang belum saatnya menjadi kupu-kupu. Ketika kepompong tersebut dipaksa untuk segera jadi kupu-kupu, maka yang terjadi kupu-kupu itu akan mati. AHY ibarat bayi dalam kandungan yang masih berumur 6 bulan tapi dipaksa untuk lahir, maka yang terjadi bayi yang lahir tersebut akan lemah.

Soal militer, AHY memang berkompeten. AHY memiliki potensi untuk jadi panglima TNI. Tapi karena kemauan orang tuanya, AHY justru banting setir jadi politisi. Padahal, bidang AHY di militer, bukan di politik. Namun AHY tak berani berontak. AHY ikuti kemauan orang tuanya tanpa meminta penjelasan lebih panjang.
Bukti bahwa AHY masih sangat prematur adalah saat kalah di Pilkada DKI 2017. AHY kalah cukup telak dan tak terduga. Wibawa SBY dan kekuatan Demokrat ternyata tak bisa berbuat banyak untuk AHY.
Namun kekalahan telak di Pilkada DKI tidak membuat SBY dan Ibu Ani jera untuk mengorbitkan AHY. Bukannya sadar bahwa AHY belum saatnya nyalon kepala daerah, yan ada SBY sama Ibu Ani justru menghendaki AHY untuk nyapres atau nyawapres.
SBY bahkan benar-benar menjadikan AHY sebagai paket yang menarik bagi pihak yang ingin mengajak koalisi partai Demokrat. SBY hanya mau diajak koalisi jika AHY minimal jadi cawapres. Itu pun hanya jadi cawapres Jokowi. Kalau AHY dilamar jadi cawapres lain SBY ogah.
Bukti lain kalau AHY belum pantas jadi capres atau cawapres adalah karena dia belum bisa mandiri. AHY masih butuh bimbingan dan pembelaan dari kedua orang tuanya. Tentu tidak lucu ketika ada presiden yang masih butuh bimbingan dari orang tuanya. Orang tuanya pun belum mampu membiarkan AHY berproses secara mandiri. Orang tuanya masih menganggap AHY sebagai “anak mami” yang harus terus diawasi dan dibela oleh orang tuanya.
Sebelumnya, AHY melakukan orasi politik yang menggebu-nggebu. Ibunya, Ani Yudhoyono mem-posting foto-foto AHY yang melakukan orasi politik pada Sabtu (9/6) lalu. Dia juga memberi caption soal sejumlah tema yang dibahas dalam orasi politik putra sulungnya itu.
"Orasi AHY 'Dengarkan Suara Rakyat', Jakarta 9 Juni 2018," tulis Ani dalam akun Instagram-nya, @aniyudhoyono, Senin (11/6/2018) pagi.
Ani Yudhoyono, sempat 'menyemprot' netizen yang nyinyir. Ani membela sang anak, AHY.
Salah satu netizen memberi komen soal AHY yang keluar dari karier kemiliterannya untuk bergabung ke dunia politik.
"Bu ani, sy lebih demen liat mas ahy 'berbaju hijau' ketimbang beliau terjun ke dunia politik," tulis salah satu akun Instagram dalam komentar posting-an Ani.
Komentar tersebut mendapat tanggapan dari sejumlah netizen lainnya. Salah satunya membandingkan AHY dengan sang adik, Edhie Baskoro (Ibas) Yudhoyono, yang sudah lebih dulu terjun ke dunia politik.
"Knp ga mas Ibas aja yg di partai mas Agus di TNI," demikian kutipan komentar dari netizen lainnya.
Ani pun lalu membalas komentar tersebut dengan sedikit panas. Setidaknya dia membalas dua komentar dengan kalimat yang sama.
"Lho koq sampeyan yg ngatur?" tulis Ani yang me-mention akun netizen yang mengkritik Agus.
Dari pembelaan ibu Ani ini , saya simpulkan AHY memang belum saatnya menjadi capres atau cawapres. AHY harus benar-benar dilepas oleh orang tuanya. Orang tuanya harus benar-benar bisa membiarkan AHY berproses secara alami, bukan menjadikan AHY seperti robot.
Cara Ibu Ani dalam mengomentari nyinyiran netizen juga menunjukkan bahwa SBY dan Ibu Anilah yang selama ini sudah mengatur semua hal yang berkaitan dengan AHY. AHY nyaris hanya seperti boneka yang bebas dikemas dan dirias seperti apa oleh orang tuanya. AHY pun tampaknya tidak pernah sekalipun menolak apa yang orang tua inginkan. Padahal, bisa jadi hati nurani AHY sebenarnya memberontak.
Jika AHY nekat nyapres atau nyawapres, saya bayangkan SBY dan Ibu Ani yang akan sibuk. Sibuk mengarahkan AHY bagaimana caranya berpidato, berdebat, dan membuat program. Keduanya juga sibuk membela AHY dengan menaggapi bullian yang diarahkan ke AHY. AHY persis hanya akan jadi robot saja.
By: saefudin achmad
AHY mungkin memiliki potensi untuk jadi pemimpin hebat, tapi tidak saat ini. Saat ini AHY masih perlu banyak belajar agar di masa depan bisa menjadi pemimpin hebat. AHY ibarat kepompong yang belum saatnya menjadi kupu-kupu. Ketika kepompong tersebut dipaksa untuk segera jadi kupu-kupu, maka yang terjadi kupu-kupu itu akan mati. AHY ibarat bayi dalam kandungan yang masih berumur 6 bulan tapi dipaksa untuk lahir, maka yang terjadi bayi yang lahir tersebut akan lemah.

Soal militer, AHY memang berkompeten. AHY memiliki potensi untuk jadi panglima TNI. Tapi karena kemauan orang tuanya, AHY justru banting setir jadi politisi. Padahal, bidang AHY di militer, bukan di politik. Namun AHY tak berani berontak. AHY ikuti kemauan orang tuanya tanpa meminta penjelasan lebih panjang.
Bukti bahwa AHY masih sangat prematur adalah saat kalah di Pilkada DKI 2017. AHY kalah cukup telak dan tak terduga. Wibawa SBY dan kekuatan Demokrat ternyata tak bisa berbuat banyak untuk AHY.
Namun kekalahan telak di Pilkada DKI tidak membuat SBY dan Ibu Ani jera untuk mengorbitkan AHY. Bukannya sadar bahwa AHY belum saatnya nyalon kepala daerah, yan ada SBY sama Ibu Ani justru menghendaki AHY untuk nyapres atau nyawapres.
SBY bahkan benar-benar menjadikan AHY sebagai paket yang menarik bagi pihak yang ingin mengajak koalisi partai Demokrat. SBY hanya mau diajak koalisi jika AHY minimal jadi cawapres. Itu pun hanya jadi cawapres Jokowi. Kalau AHY dilamar jadi cawapres lain SBY ogah.
Bukti lain kalau AHY belum pantas jadi capres atau cawapres adalah karena dia belum bisa mandiri. AHY masih butuh bimbingan dan pembelaan dari kedua orang tuanya. Tentu tidak lucu ketika ada presiden yang masih butuh bimbingan dari orang tuanya. Orang tuanya pun belum mampu membiarkan AHY berproses secara mandiri. Orang tuanya masih menganggap AHY sebagai “anak mami” yang harus terus diawasi dan dibela oleh orang tuanya.
Sebelumnya, AHY melakukan orasi politik yang menggebu-nggebu. Ibunya, Ani Yudhoyono mem-posting foto-foto AHY yang melakukan orasi politik pada Sabtu (9/6) lalu. Dia juga memberi caption soal sejumlah tema yang dibahas dalam orasi politik putra sulungnya itu.
"Orasi AHY 'Dengarkan Suara Rakyat', Jakarta 9 Juni 2018," tulis Ani dalam akun Instagram-nya, @aniyudhoyono, Senin (11/6/2018) pagi.
Ani Yudhoyono, sempat 'menyemprot' netizen yang nyinyir. Ani membela sang anak, AHY.
Salah satu netizen memberi komen soal AHY yang keluar dari karier kemiliterannya untuk bergabung ke dunia politik.
"Bu ani, sy lebih demen liat mas ahy 'berbaju hijau' ketimbang beliau terjun ke dunia politik," tulis salah satu akun Instagram dalam komentar posting-an Ani.
Komentar tersebut mendapat tanggapan dari sejumlah netizen lainnya. Salah satunya membandingkan AHY dengan sang adik, Edhie Baskoro (Ibas) Yudhoyono, yang sudah lebih dulu terjun ke dunia politik.
"Knp ga mas Ibas aja yg di partai mas Agus di TNI," demikian kutipan komentar dari netizen lainnya.
Ani pun lalu membalas komentar tersebut dengan sedikit panas. Setidaknya dia membalas dua komentar dengan kalimat yang sama.
"Lho koq sampeyan yg ngatur?" tulis Ani yang me-mention akun netizen yang mengkritik Agus.
Dari pembelaan ibu Ani ini , saya simpulkan AHY memang belum saatnya menjadi capres atau cawapres. AHY harus benar-benar dilepas oleh orang tuanya. Orang tuanya harus benar-benar bisa membiarkan AHY berproses secara alami, bukan menjadikan AHY seperti robot.
Cara Ibu Ani dalam mengomentari nyinyiran netizen juga menunjukkan bahwa SBY dan Ibu Anilah yang selama ini sudah mengatur semua hal yang berkaitan dengan AHY. AHY nyaris hanya seperti boneka yang bebas dikemas dan dirias seperti apa oleh orang tuanya. AHY pun tampaknya tidak pernah sekalipun menolak apa yang orang tua inginkan. Padahal, bisa jadi hati nurani AHY sebenarnya memberontak.
Jika AHY nekat nyapres atau nyawapres, saya bayangkan SBY dan Ibu Ani yang akan sibuk. Sibuk mengarahkan AHY bagaimana caranya berpidato, berdebat, dan membuat program. Keduanya juga sibuk membela AHY dengan menaggapi bullian yang diarahkan ke AHY. AHY persis hanya akan jadi robot saja.
By: saefudin achmad
Loading...
Post a Comment