PKS Senayan Protes Densus 88 Operasinya Mengganggu Proses Belajar Mahasiswa
Loading...
Loading...
Kalangan dewan dari PKS mengkritik langkah Tim Datasemen Khusus (Densus) 88 antiteror yang melakukan penggeledahan di dalam Universitas Riau di Pekanbaru, beberapa waktu lalu.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih tidak setuju dengan operasi penggeledahan yang dilakukan Densus 88 disebuah kampus Universitas Riau, menurutnya tindakan Densus 88 salah dan tidak sesuai dengan teori pendidikan.
"Sebetulnya kalau temporer gitu boleh, kalau dalam waktu yang panjang apa ini sesuai dengan teori pendidikan? Nanti akan akan terkekang, nanti jadi represif (menekan) ," jelasnya di Kompleks Parlemen Senayan, Senin (4/6).
Abdul Fikri menjelaskan, sebelum melakukan penggeledahan sebaiknya terlebih dahulu dilakukan penyesuaian kaidah pendidikan.
"Inikan nanti kontraproduktif. Nah oleh karenanya saya kira ini bolehlah sementara, tapi kemudian selanjutnya harus dipikirkan ke depan ini mau seperti apa," jelasnya.
Legislator asal PKS ini menegaskan, penggeledahan di area kampus maka akan mengganggu konsentrasi pendidikan mahasiswa, utamanya mahasiswa baru yang rentan depresi.
"Saya kira harus profesional, bolehlah mungkin pada saat-saat tertentu, saat tenang kita harus berpikir ke depan. Karena kita tidak bisa menyelesaikan problematika hanya untuk saat-saat yang penting sekarang selesai kemudian ke depan mau apa ini? namanya enggak systemable-kan," demikian Abdul Fikri.
Sebelumnya Fahri Hamzah juga marah dan protes keras dengan penggeledahan yang dilakukan Densus 88 di Universitas Riau, menurut Fahri, tindakan Densus tidak bisa dibenarkan membawa senjata laras panjang masuk ke kampus.
Senada dengan temen-temennya di PKS, Hidayat Nurwahid bahkan menyerankan Densus 88 jangan pakai senjata tajam untuk menangani teroris, tapi pakai bius saja, karena nyawa teroris juga sama berharganya dengan nyawa korban teror.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih tidak setuju dengan operasi penggeledahan yang dilakukan Densus 88 disebuah kampus Universitas Riau, menurutnya tindakan Densus 88 salah dan tidak sesuai dengan teori pendidikan.
"Sebetulnya kalau temporer gitu boleh, kalau dalam waktu yang panjang apa ini sesuai dengan teori pendidikan? Nanti akan akan terkekang, nanti jadi represif (menekan) ," jelasnya di Kompleks Parlemen Senayan, Senin (4/6).
Abdul Fikri menjelaskan, sebelum melakukan penggeledahan sebaiknya terlebih dahulu dilakukan penyesuaian kaidah pendidikan.
"Inikan nanti kontraproduktif. Nah oleh karenanya saya kira ini bolehlah sementara, tapi kemudian selanjutnya harus dipikirkan ke depan ini mau seperti apa," jelasnya.
Legislator asal PKS ini menegaskan, penggeledahan di area kampus maka akan mengganggu konsentrasi pendidikan mahasiswa, utamanya mahasiswa baru yang rentan depresi.
"Saya kira harus profesional, bolehlah mungkin pada saat-saat tertentu, saat tenang kita harus berpikir ke depan. Karena kita tidak bisa menyelesaikan problematika hanya untuk saat-saat yang penting sekarang selesai kemudian ke depan mau apa ini? namanya enggak systemable-kan," demikian Abdul Fikri.
Sebelumnya Fahri Hamzah juga marah dan protes keras dengan penggeledahan yang dilakukan Densus 88 di Universitas Riau, menurut Fahri, tindakan Densus tidak bisa dibenarkan membawa senjata laras panjang masuk ke kampus.
Senada dengan temen-temennya di PKS, Hidayat Nurwahid bahkan menyerankan Densus 88 jangan pakai senjata tajam untuk menangani teroris, tapi pakai bius saja, karena nyawa teroris juga sama berharganya dengan nyawa korban teror.
Loading...
Post a Comment